sosok tua itu

Sosok tua itu

Sosok tua itu terus melangkah
Tak hirau teriknya mentari
Tertatih mengayun langkah
Gontai terus melangkah

Sosok tua itu terus melangkah
Di antara deru mesin
Di antara kepulan polusi
Di antara debu debu beterbangan

Sosok tua itu terus melangkah
Menapaki panasnya trotoar
Kadang berhenti sebentar
Sekedar menarik napas panjang

Sosok tua itu terus melangkah
Tetap semangat mengayun langkah
Melewati lorong trotoar terus melangkah
Melewati keramaian terus melangkah

Sosok tua itu terus melangkah
Entah kemana arah tujuanya tetap melangkah
Entah apa yang di harap dari langkahnya
Entah punya maksud apa terus melangkah
Atau sekedar melangkah mengikuti arah
Atau sekedar melangkah karena menghindar
Atau sekedar melangkah karena terpaksa harus
Atau sekedar melangkah lari dari ke tidak pastian

Ah entahlah….
Sosok tua itu terus melangkah
Tetap semangat tak kenal lelah
Pantang menyerah terus melangkah
Cucuran keringat membasahi baju lusuhnya
Tak peduli terus melangkah

Sosok tua itu terus melangkah
Entah kapan kan menghentikan langkahnya
Atau mungkin takan berhenti
Sampai batas langkah saat tidak bisa lagi melangkah

Advertisements

About kangyan
hanya seorang awam yang suka menulis sebelum tidur... menulis tentang apa saja, dari yang di dengar, di lihat dan di rasakan... bentuk tulisan sekedar ekspresi pemberontakan yang hanya tersalur lewat tulisan...

21 Responses to sosok tua itu

  1. cumakatakata says:

    apa mungkin sosok tua itu menikmati langkah-langkah nya…

  2. ~Amela~ says:

    sosok tua itu akan selalu melangkah selama masih bisa melangkah

  3. elfarizi says:

    renungan buat di hari tua nanti 😀

  4. Hijihawu says:

    Realita beratnya perjuangan hidup…..

  5. jayireng says:

    aemantaf kang ajeb bener, jadi keinget sama lyric bang iwan fals ibu

    Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

    Lewati rintang untuk aku anakmu

    Ibuku sayang masih terus berjalan

    Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

    Seperti udara kasih yang engkau berikan

    Tak mampu ku membalas . . . . . . . . . . . . Ibu . . . . . . . . . . . . . ibu . . . . . . . . . . . . .

    Ingin ku dekap dan menangis dipangkuan mu

    Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

    Lalu do’a-do’a
    baluri sekujur tubuh ku
    Dengan apa membalas . . . . . . . . . . . . . . .
    Ibu . . . . . . . . . . . . . ibu . . . . . . . . . . . . .

    Oi mania nih ane kang hehe, sory maaf baru mampir kang.

    • uyayan says:

      percaya deh.. jayireng adalah OI sejati.. te o pe lah…

      c akangge surua penggemar kang Iwan hehe

      samapi saat ini belum ada yang bisa menggatikan posisi kang Iwan sebagai penyanyi paporitnya sayaaa…hehe

      • jayireng says:

        kang iwan henteu tergantikan ku saha oge atuh kang, mane na maestro sajati
        urang, jay ngaharepkeun kang iwan jadi presiden di indonesia kang hehe… Amin

  6. bensdoing says:

    sosok tua itu begitu rentanya…..
    kitapun akan mengikuti “jejaknya”…..menjadi tua dan renta…. 🙂

  7. oomguru says:

    Sosok tua itu..
    Menorehkan sebuah tanya..
    Akan hari silamnya..
    Pernahkah dia 4L4y..

    Piss ahh. (^.^)v

  8. anislotus says:

    wah, terinspirasi dari mana ni bang… bagus puisinya 😀

yang sudah baca di tunggu komenya,,,,,, terima kasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: