malam minggu

Malam Minggu.

Malam Minggu ini langit tidak begitu cerah hanya sedikit bintang menhiasi angkasa sana. Bulan entah kemana tidak kelihatan malam ini. Hanya deru bising mesin roda dua yang di geber gak kira kira. Knalpot racing meraung memekakan telinga terbangkan debu jalanan melengkapi polusi sesaki dada.

Mereka seakan tidak peduli dengan pejalan kaki seenaknya saja membesut tali gas tunggangan mereka. Berseliweran di jalan milik bersama tak hirau, kebut kebutan membahayakan jiwanya dan orang lain. Tak jarang terdengar teriakan mengutuk pengguna jalan lainya dengan bahasa kasar meneriakan “MODAR SIA”. Mungkin saking kesalnya melihat ulah mereka.

Sementara yang di teriakin acuh saja, mungkin tak mendengar terus berlalu dengan pasanganya yang mendekap erat dari belakang merapatkan dada seakan gak rela kalau dadanya gak di tempelkan. Tapi mungkin juga karena merasa takut jatuh, maklum kalau terjatuh dari kedaraan dalam kecepatan tinggi pasti urusanya ke rumah sakit atau langsung ke alam kubur. Sudah banyak contoh kecelakaan yang merenggut nyawa mungkin jumlahnya sudah sulit untuk di hitung. Tapi lagi lagi kho gak sadar sadar ya atau belum sadar yang jelas tetap saja hampir setiap malam Minggu selalu seperti ini kalau disini, entahlah di tempat lain.

Saya juga pengguna roda dua tapi gak kayak mereka gak suka kebut kebutan meureun bae da borangan haha paling 40 sampai sekian KM perjam tapi toh sampai juga di tujuan. Lalaunan nu penting nepi bari jeung salamet.

Terlepas dari itu saya juga gak bisa menyalahkan mereka, maklum mereka itu anak anak muda yang serba ingin tahu dan punya gengsi yang tinngi, acap kali berpikiran kumaha engke bagaimana nanti saja. Padahal seharusnya di balik engke kumaha nanti bagaimana. Kalau punya pemikiran “nanti bagaimana” mungkin mereka gak bertingkah seperti itu, ugal ugalan di jalan. Dalam hati setidaknya bertanya “nanti bagaimana kalau nabrak orang, nanti bagaimana kalau nabrak mobil, nanti bagaimana kalau remnya blong terus nabrak tiang listrik de es te”. Mungkin saja kalau punya pemikiran seperti itu akan berpikir dua kali untuk  kebut kebutan.

Itulah catatan malam Minggu tanpa rembulan di pinggir jalan berlobang berteman nyamuk nakal, kecoa liar dan sebilah golok tajam. Sampai tulisan ini di post-kan kebut kebutan masih berlanjut.

Perihal kangyan
hanya seorang awam yang suka menulis sebelum tidur... menulis tentang apa saja, dari yang di dengar, di lihat dan di rasakan... bentuk tulisan sekedar ekspresi pemberontakan yang hanya tersalur lewat tulisan...

18 Responses to malam minggu

  1. bensdoing mengatakan:

    ayooo…kamu bisa riders ….!😀
    #provokator

  2. Dyka mengatakan:

    Iya, mending nntn gp aja gan🙂

  3. Evi mengatakan:

    Unjuk kegagahan yg gal penting amat ya Kang Yayan. Anak muda ini jg mesti mikirin orang tua mrk. Kalau celaka gimana tuh perasaan orang tua mrk.

  4. Abed Saragih mengatakan:

    Bagi saya malam minggu adalah malam seperti biasanya gak da yang spesial.

  5. onesetia82 mengatakan:

    kata orang malam minggu adalah malam yg panjang …
    betul ga gan sih …😀

  6. Tri mengatakan:

    kalau diteriak orang gitu seperti disumpahi gitu ya kang..
    tapi yaa..mereka cuek aja..

  7. Hijihawu mengatakan:

    Kalau mau ngebut dan eksis, baiknya ya di Sentul. Legal, terlebih lagi jika berprestasi.
    Mereka ingin unjuk kemampuan tanpa mengindahkan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Semoga seriring bertambah kedewasaan, hal ini dapat berkurang.

  8. chuckybugiskha mengatakan:

    untung ngga ada perampok… bisa-bisa golok tajam keluar dari sarungnya…

yang sudah baca di tunggu komenya,,,,,, terima kasih.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: