tempat wisata situs purbakala di Bogor

tempat wisata situs purbakala di Bogor

Bogor memiliki banyak tempat tujuan wisata yang sangat menarik..Selain tempat wisata alam dll, Bogor juga memiliki tempat wisata Purbakala seperti situs-situs dan prasasti, peninggalan masa lampau yang sampai sekarang masih bisa di kunjungi..

Diantara :

Prasasti Batu Tulis

Kota Bogor modern terletak tidak jauh dari pusat kerajaan Sunda terbesar di jamannya, Pakuan. Tidak heran apabila banyak ditemukan peninggalan dari kerajaan tersebut, salah satunya adalah Prasasti Batu Tulis. Penemuannya dinyatakan dalam laporan ekspedisi VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie)/Persatuan Dagang Hindia Timur dipimpinnya oleh Scipio pada tahun 1687. Kemudian prasasti ini diteliti oleh para ahli, diantaranya Friedrich (1853), J. Noorduyn (1859), K. E. Holle (18777), C. M. Pleyte (1911), R. Ng. Poerbatjaraka (1921), dan Saleh Danasasmita (1981-1984).

Berdasarkan kajian teks prasasti Batu Tulis oleh para ahli berhasil disusun kembali oleh oleh Saleh Danasasmita tahun 1981-1984 sebagai berikut:

“Adapun putra Dewa Niskala, yaitu Ratu Jayadewata menggantikannya menjadi raja Sunda dengan nama Prabuguru Dewataprana, lalu dinobatkan lagi dengan gelar Sri Baduga Maharaja di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Ia duduk di atas tahta yang bernama Sriman Sriwacana. Keratonnya bernama Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati. “

Teks Prasasti Batu Tulis digoreskan pada sebuah monolit dari batu andesit berwarna abu-abu kehitaman berbentuk segi tiga pipih menyerupai gunungan dengan huruf Jawa Kuno dan bahasa Sunda Kuno. Inskripsi terdiri dari sembilan baris,  berukuran tinggi 1,82 m, lebar atas 27 cm, lebar bawah 1,52 m dan tebal 15 cm. Prasasti ini dibuat dalam masa Raja  Surawisesa untuk memperingati jasa raja pendahulunya, Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja yang telah memperbaiki Pakuan Pajajaran dengan membuat parit pertahanan, gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat (hutan) Samida, dan membuat talaga Rena Mahawijaya, dan berangka tahun berbentuk candrasangkala “panca pandawa ngemban bumi” yang setara dengan tahun 1455 Saka (1533 M),

Prasasti ini merupakan sebuah sakakala atau “tanda peringatan” untuk memperingati 12 tahun meninggalnya Sri Baduga Maharaja yang berkuasa selama 39 tahun (1482-1521). Kebiasaan dalam Agama Hindu mengenal upacara Srada yang dilaksanakan 12 tahun setelah meninggal sebagai penyempurnaan sukma. Prasasti ini dibuat tahun ke-12 (1533) setelah Sri Baduga Maharaja wafat tahun 1521 Masehi. Tahun1455 Saka yang tertera pada prasasti sesuai dengan tahun 1533 M.

Lokasi: Jalan Raya Batu Tulis, Kelurahan Batu Tulis, Kecamatan Bogor Selatan

Arah:  Sekitar 3 km sebelah selatan dari pusat Kota Bogor, sekitar 20 km sebelah timur Istana Batu Tulis. Lokasi mudah dicapai dengan kendaraan umum jurusan Bogor-Ciampea dalam waktu tempuh 20 menit atau dengan kendaraan umum (kendaraan beroda empat) Sukajadi-Bubulak, turun di Jalan Merdeka.

Prasasti Batu Tulis Ciaruteun

Terletak di ketinggian  320 m dpl, lokasi Prasasti Batu Tulis Ciaruteun terdiri dari tiga buah prasasti, yaitu Ciaruteun, Kebon Kopi (Tapak Gajah), dan Muara Cianten, serta tinggalan megalitik antara lain batu dakon, menhir, batu datar arca megalitik.
Prasasti Ciaruteun diketahui berdasarkan laporan pimpinan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tahun 1863. Prasasti ini ditemukan dekat Sungai Ciaruteun, kira-kira 100 meter ke arah hilir muara Cisadane. Menurut informasi, ketika terjadi banjir pada tahun 1894, prasasti tersebut bergeser sehingga tulisannya terbalik menghadap ke dasar sungai. Selanjutnya pada tahun 1903, letaknya diperbaiki. Pada tahun 1987, prasasti ini dipindahkan dari tengah Sungai Ciaruteun ke daratan (di atas sungai) ± 150 meter sebelah utara.  Karena ditemukan pada alur Sungai Ciaruteun, prasasti ini dikenal dengan nama Prasasti Ciaruteun. 
Anda akan melihat bahwa prasasti berisikan tiga hal, yaitu nama kerajaan Tarumanagara, nama raja Purnawarman, dan (mungkin) dewa yang dipujanya Wisnu. Prasasti ini diperkirakan dibuat pada abad ke-5 M.

Lokasi: Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang

Prasasti Tapak Gajah

Prasasti Tapak Gajah/Kebun Kopi I terdiri dari tiga prasasti, yaitu Ciaruteun, Kebon Kopi (Tapak Gajah), dan Muara Cianten, serta tinggalan megalitik antara lain batu dakon, menhir, batu datar arca megalitik.
dilaporkan pertama kali pada tahun 1863, prasasti ini dikenal sebagai batu tapak gajah  karena pada prasasti itu terdapat sepasang telapak kaki gajah. 
Prasasti dipahatkan di atas sebuah batu datar dari bahan andesit berwarna kecokelatan berukuran tinggi 69 cm, lebar 104cm dan 164 cm. Anda akan melihat pahatan sepasang telapak kaki gajah yang mengapit sebaris tulisan berhuruf Palawa dalam Bahasa Sangsakerta, ditulis dalam bentuk puisi India dengan irama anustubh. Prasasti ini diperkirakan dibuat pada abad ke-5 M pada masa Kerajaan Tarumanegara. 
Di daerah Ciaruteun ini terdapat 3 buah prasasti yang penting bagi kesejarahan Kerajaan Tarumanegera, yang merupakan kerajaan besar yang pernah ada di Pulau Jawa pada abad ke-5-7 M, yaitu Prasasti Kebon Kopi I (Prasasti Tapak Gajah), Prasasti Ciaruteun, dan Prasasti Muara Cianten. Prasasti Kebon Kopi I dan Prasasti Ciaruteun telah ditata dan diberi cungkup (peneduh) dan memasuki Desa Ciaruteun Pemerintah Kabupaten Bogor telah melakukan penataan dengan membuat gapura untuk kepentingan kepariwisataan. 

Lokasi: Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang

Arah: ± 19 km sebelah baratdaya dari Kota Bogor

Prasasti Pasir Koleangkak

Prasasti Pasir Koleangkak, atau Prasasti Pasir Gintung, dikenal juga sebagai The Earliest Sanskrit Inscription of Java. Dilaporkan pertama kali oleh J. Rigg pada tahun 1854, kemudian prasasti ini dialihaksara dan diterjemahkan oleh J.Ph. Vogel (1925) dan oleh R.M. Ng. Poerbacaraka (1952) dalam bukunya Riwayat Indonesia I.
Anda akan melihat bahwa prasasti ini dipahatkan pada batu andesit dengan bentuk segi tiga tidak sama sisi, berukuran tinggi 73 cm, sisi-sisinya berukuran 290 cm, 264 cm, 240 cm. Pada permukaan batu yang relatif sudah rata sebelumnya dan tidak melalui proses penghalusan terlebih dahulu, tertera inskripsi dua baris dengan huruf Palawa dan Bahasa Sansakerta yang diperkirakan ditulis pada abad ke-5 M.
Dari Bukit Koleangkak, Anda juga dapat menikmati hamparan persawahan, pengunungan hijau, Sungai Cikasungka, dan Kota Leuwiliang.

Lokasi: Kampung Pasir Gintung RT 02/RW 04, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung

Arah: ± 24 km sebelah barat dari Kota Bogor, atau ± 10 km dari Kota Leuwiliang atau ± 14 km sebelah selatan Kota Kecamatan Nangung

Prasasti Muara Cianten

Penemuan prasasti ini pertama kali dilaporkan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864. Karena lokasinya yang terletak di tepi Sungai Cisadane  dan ± 50 m ke muara Cianten, prasasti terendam air sungai dan acap kali digunakan sebagai alas untuk mencuci pakaian. Aliran sungai yang membawa pasir atau batu-batu kecil dan akibat aktivitas manusia sangat merusak kondisi objek ini.
Prasasti ini permukaanya batunya halus karena proses penghalusan atau gerusan air sungai yang terus menerus dalam waktu yang lama. Hal ini belum diketahui dan perlu pengamatan secara seksama. Prasasti ditulis pada sebuah batu berukuran tinggi 140 cm, panjang 317 cm, dan lebar 148 cm. Prasasti  memuat tulisan/gambar (piktograf) dalam aksara ikal (garis-garis ikal yang saling membelit-belit) dan sudah sangat aus hingga sekarang belum dapat diartikan. 
Prasasti Muara Cianten belum dilakukan penyelamatan, pemindahan dari tengah sungai Muara Cianten ke lokasi yang lebih aman yaitu di darat. Perlu secepatnya dilakukan penyelamatan dan perawatan terhadap prasasti karena merupakan salah satu prasasti tinggalan diduga berasal dari masa Kerajaan Tarumanagara.

Lokasi: Kampung Muara, Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang

Arah: ± 19 km sebelah baratdaya dari Kota Bogor

Situs Sindang Barang

Situs Sindang Barang merupakan area tempat ditemukannya Mata Air Jatalunda, Taman Sri Bagenda,  Kepurbakalaan Majusi, Kepurbakalaan Surawisesa, Punden Berundak Leuweung Karamat dan Saunggalah, dan Kelompok Megalitik Hunyur Kadoya. Selain itu juga dapat Anda lihat Punden Rucita, Punden Pasir Ater, Punden Pasir Karamat I, Punden Pasir Karamat II, Punden Batu Karut, Punden Batu kursi, Batu datar Patilasan Surya Kancana, yang seluruhnya diperkirakan mencapai jumlah 63 buah. Situs-situs megalitik itu sekarang ada yang terletak di tengah-tengah perkampungan penduduk, di tengah pesawahan, atau lahan yang dikeramatkan karena dianggap angker. 
Konon situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Di sinilah raja Sunda Kuna dan kerabatnya dahulu pergi menentramkan diri dan juga bermeditasi menghadap Hyang yang bersemayam di puncak Gunung Salak. Apabila naskah-naskah Jawa-Bali bertutur tentang Taman Bagenda sekitar abad ke-15-16, maka pada waktu itulah Taman Bagenda dikenal, tentunya dikenal juga di lingkungan budaya Sunda Kuna. Dapat diperkirakan bahwa Taman Sri Bagenda dahulu berfungsi dan berperanan pada sekitar era terakhir Kerajaan Sunda (abad ke-15 hingga awal abad ke-16 M). 
Tafsiran sementara yang dapat dikemukakan adalah sangat mungkin kepurbakalaan yang berbentuk megalitik di wilayah Sindangbarang tersebut berasal dari fase terakhir kerajaan Sunda Kuna, berarti berada dalam zaman sejarah, bukan dari periode prasejarah. Maka dari itu dapat pula dinyatakan bahwa pada masa akhir kerajaan Sunda kuna masih dikenal bentuk-bentuk tradisi megalitik, suatu ritus pemujaan kepada Hyang dan Karuhun yang medianya menggunakan monumen atau struktur batu yang dikerjakan secara sederhana.
Lokasi: Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari 

Arah: 5 km dari Kota Bogor

Situs Purwakalih

Ajaan Saksikan situs warisan sejarah kedi Kota Bogor yang satu ini, Situs Purwakalih. Dahulu masyarakat mengenal situs ini dengan nama situs Purwa Galih, namun sekarang masyarakat setempat lazim mengenalnya dengan sebutan situs Purwakalih. Situs ini dianggap sebagai salah satu pintu masuk ke keraton Kerajaan Pajajaran. 

Di sana terdapat tiga patung yang menurut penuturan penduduk setempat dinamakan Patung Purwa Galih, Galap Nyawang dan Kidang Penanjung. Ketiga patung tersebut dijumpai dalam Babad Pajajaran yang ditulis di Sumedang tahun 1816 pada masa Bupati Pangeran Kornel, kemudian disadur dalam bentuk puisi (tembang) pada tahun 1862. 

Situs Purwakalih ditemukan secara tidak sengaja tahun 1991, pada waktu penggalian tanah oleh para pekerja yang sedang melaksanakan pelebaran jalan.  Di lokasi ini ditemukan arca-arca dari batu yang letaknya ± 300 m sebelah selatan dari situs Batu Tulis dan ± 200 m sebelah utara Makam Kramat Batu Tulis, pada masa kepemimpinan Wali Kota Suratman. Temuan situs Purwakalihnnya, terdiri dari tiga buah arca, dengan kondisi beragam; satu tidak proporsional, satu tidak utuh dengan bagian kakinya terputus dan kedua tangannya silang menyatu di dada,  kepalanya tidak ada seperti terputus oleh penggalan senjata tajam, dan satu lagi dengan tangan menyatu di dada dengan kepala berkerudung. 

Situs dapat Anda lihat dalam bentuk batu datar, menhir, dan arca bercorak megalitik yang berjumlah 7 buah. 

Lokasi: Jalan Lawang Gintung, Desa Batu Tulis, Kecamatan Bogor Selatan.

Arah: Situs Purwakalih mudah dicapai dengan kendaraan umum atau roda empat, jurusan Merdeka-Cisarua atau Sukasari-Bubulak. 

sumber  :  http://disparbud.jabarprov.go.id
Advertisements

About kangyan
hanya seorang awam yang suka menulis sebelum tidur... menulis tentang apa saja, dari yang di dengar, di lihat dan di rasakan... bentuk tulisan sekedar ekspresi pemberontakan yang hanya tersalur lewat tulisan...

yang sudah baca di tunggu komenya,,,,,, terima kasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: